Selasa, 07 Agustus 2012

Locus of Control


Konsep tentang Locus of control (pusat kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966), seorang ahli teori pembelajaran sosial. Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib sendiri (Kreitner dan Kinicki, 2005). Locus Of Control adalah sebagai tingkat dimana individu yakin bahwa mereka adalah penentu nasib mereka sendiri. Internal adalah individu yang yakin bahwa mereka merupakan pemegang kendali atas apa-apa pun yang terjadi pada diri mereka, sedangkan eksternal adalah individu yang yakin bahwa apapun yang terjadi pada diri mereka dikendalikan oleh kekuatan luar seperti keberuntungan dan kesempatan.
Contoh sederhananya adalah seorang karyawan dalam memandang karirnya di sebuah perusahaan. Jika ia memiliki internal locus of control maka dia akan menyatakan kegagalannya meraih suatu jabatan lebih dikarenakan dirinya sendiri, sementara karyawan yang memiliki eksternal locus of control akan menyalahkan keadaan seperti kurang beruntung, bos yang kurang adil, dst.
Locus of Control merupakan sesuatu yang dipelajari dan bukan merupakan sifat bawaan, oleh karena itu pengaruh orang tua sangat berperan dalam pembentukannya. Berkenaan dengan hal ini maka Locus of Control berkaitan dengan perkembangan sosiabilitas seseorang sejak masa kanak-kanak (Schell & Hall, 1983).

Pengendalian Diri pada Remaja yang Diasuh oleh Orang Tua Tunggal


Remaja, terutama selama tahun-tahun awal, adalah masa perubahan perkembangan yang penting. Perubahan fisiologis sering memicu masalah-masalah khusus dan keraguan tentang konsep diri, identitas seksual, dan hubungan dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan penting dalam kepribadian dan kognisi terjadi selama masa remaja, dengan awal masa remaja menjadi waktu yang paling penting. Awal masa remaja mencakup rentang usia 12 sampai 15 tahun. Pada saat ini, masyarakat membuat banyak tuntutan pada individu dan diharapkan bahwa tuntutan tersebut akan dipenuhi dalam waktu yang sangat singkat.
Masa remaja merupakan periode tumbuh kembang manusia yang sangat perlu diperhatikan dalam membentuk karakter sikap prilaku sesuai dengan konsep dirinya di kemudian hari. Sebagai unit terkecil masyarakat, keluarga melalui pola asuh orang tua secara kuat sangat mempengaruhi tingkat perkembangan individu dalam pencapaian kesuksesan atau kegagalan dalam pergaulan dalam masyarakat (Friedman, 1998). Melalui pola asuh orang tua, remaja akan mulai belajar mengenai pemahaman diri, rasa percaya dan konsep diri, karena orang tua berperan dalam menentukan ada tidaknya kesempatan anak untuk dapat mengembangkan dirinya.
            Para orang tua mengakui bahwa pada saat anak mereka remaja adalah masa paling sulit. Mereka mengakui bahwa masa labil remaja membuat mereka bingung akan pola pengasuhan apa yang mereka terapkan. Jika terlalu dikekang, mereka cenderung memberontak, jika dibiarkan, orang tua merasa khawatir. Dibutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua dan anak untuk dapat melewati masa ini dengan baik.
Tindakan-tindakan tidak terkontrol sering dikaitkan dengan remaja, karena seringkali bentuk perkelahian dilakukan oleh para remaja, sehingga perkelahian antar remaja sudah menjadi fenomena yang biasa di masyarakat luas terutama di kota-kota besar. Menurut Lewin (dalam Winarno ,2003) kondisi tersebut dikarenakan dalam kelompok terdapat sifat interdependen anatar anggota dan kondisi seperti itu berpeluang menjadi suatu konflik. Oleh karena itu, diperlukan control diri untuk mengontrol emosi dalam diri remaja. Telah kita ketahui bahwa emosi remaja masih belum stabil. Disinilah diperlukannya bantuan orang tua untuk menjaga agar remaja tidak terjebak dalam hal-hal yang negatif. Namun bagaimana dengan remaja dengan orang tua tunggal? Apakah mereka dapat mengontrol diri dengan baik?



Iran in Kyoto Protocol.


Iran took a step towards signing the Protocol Kyoto, which aims to cut global warming, with the participation of government and oil industry officials in a UN-supported workshop aimed at studying the impact signing up would have on the oil-rich country. President Ahmadinejad also called for naming the year 2011 as the Year for Reformation of Consumption Patterns and announced Iran's preparedness for continued cooperation, especially in regard to appropriate usage of energy sources and nationalization of environmental technologies. Ahmadinejad said Iran is ready to hand over the results and outcomes of its studies and experiments to other countries for usage of clean energies. Islamic Republic of Iran considers protection of the environment as a serious obligation based on religious and ideological teachings, and in accordance to Iran's Constitution.
Oil industry sources say Iran is reluctant to join because it is concerned it could adversely affect its crude oil exports, which currently stands at about two million barrels per day (bpd). If the Kyoto Protocol commitments were applied as established, they would mean losses of up to US $63 billion per year for the Organization's Member Countries. Losses on such a large scale would clearly be unsustainable for the economies of OPEC Member Countries and other oil-producing nations.
But the Protocol has market-oriented provisions, such as the Clean Development Mechanism (CDM), which would encourage international investment in energy efficiency and renewable energy within developing countries such as Iran.
The Clean Development Mechanism is the only Kyoto Protocol mechanism relevant to Iran's context. CDM was discussed at length as both an instrument for technology transfer and an effective green house gas mitigation mechanism. Thus, awareness-raising through this unprecedented workshop has been a major strategy to facilitate the debate on whether Iran should accede to the Kyoto Protocol.

ABOUT UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE

Climate change issue has been recognized by the scientists since 1960-1970s. After analyzing the potential problem and forcasting its further implications, they began pressing the policy makers to create solutions regarding the issue. The effort is considered a success, because starting in 1972, the world has been working hand-in-hand to contend with this problem, realizing its dangerous threat towards the earth’s civilization. Responding to that point, as a global organization, United Nations has taken the role to lead and organize many conventions to resolve the issue.

However, the conventions held were deemed insufficient to combat the multifaceted matter, The Earth Summit 1992 which took place in Rio De Janeiro, Brazil, resulted in the establishment of United Nations Framework of Convention on Climate Change (UNFCCC) as an international treaty, expected to engage all countries in the world into a legally binding commit ment. This special body was formed as the prolonged vision of the previous Declaration of United Nations Conference on Human Environment, 1972. Based on United Nations Charter, UNFCCC exists to encourage countries to not conduct exploitation towards their own resources uncontrolly which brings forth detrimental effects and damages to the environment inside and outside their border. Identifying the possibility of sea-level rise on islands and coastal areas that mostly affects developing countries, UNFCCC gives its main concern to assist these countries in dealing with climate change by compelling the developed countries as the bigger emitters of the world to lend a hand for them. It is all done in the spirit of protecting global climate for the present and future generation.

Having been introduced, UNFCCC has succeeded to incur an annual meeting – Conference of Parties (COP) since 1995. COP facilitates countries to negotiate with each other in order to attain the most effective proposal to mitigate and adapt to climate change with their own interests. Hence, to implement the convention agreed in COP I, UNFCCC considered that a secretariat was needed to be established to run its daily administrations. Finally, UNFCCC established its headquarter in Bonn, Germany in 1996.

As the awareness of the world about the climate change problem was getting higher, the establishment of UNFCCC’s secretariat marked the continuity of the COP for environment issue. In this respect, COP starts to be held annually. To execute the points deliberated in the conventions, the UNFCCC is assisted by its subsidiary bodies, comprising of The Subsidiary Body on Scientific and Technical Advice (SBSTA) and Subsidiary Body for Implementation (SBI). The two bodies provide the informations needed to create policies that would be adopted in the convention and implemented afterward. Under the COP, two more bodies was also established -- the Ad Hoc Working Group on Further Commitments for Annex I Parties and the Ad Hoc Working Group on Long-Term Cooperative Action. These bodies focus on the second commitment of Kyoto Protocol, especially on mitigation and adaption efforts.

UNFCCC is also equipped and supported by other bodies, such as Global Environment Facility (GEF) as a financial mechanism assistance for developing countries, Consultative Group of Experts (CGE), and Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) as publisher of comprehensive reviews on climate change science every five to six years, as well as other technical reports and papers.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Apa yang akan saya lakukan?

Blog..


Saya tahu blog sudah lama. Saya pernah punya blog. Hmm...tapi saya tidak tertarik dengan blog. Jika saya disuruh menulis, saya bingung bagaimana harus mengawalinya. Saya suka menulis. Itu pun karena saya merasa tulisan tangan saya bagus. Tapi saya tidak suka menulis dalam artian membuat suatu tulisan. Hmm membingungkan. 

Suatu hari dosen pembimbing saya menyuruh saya untuk membuat blog. Hmm yang terlintas pada pikiran saya pada saat itu adalah apa yang akan saya tulis?apa yang akan saya lakukan dengan blog itu setelah saya membuatnya?. Lalu saya mencoba melihat-lihat apa yang orang lakukan dengan blog mereka. Oh ternyata ada yang mengisi blog mereka dengan tulisan-tulisan yang bertemakan religi, ada yang mengisi dengan informasi-informasi menarik,dan ada juga yang mengisi blog mereka dengan hal-hal yang "panas". Saya mengambil kesimpulan bahwa ooh ternyata disana mereka menyalurkan pikiran dan kesenangan mereka. Lalu, saya berpikir lagi, hal apa ya yang saya senangi?apa yang ingin saya bagi dengan orang-orang diluar sana?. Aha! Saya ada ide!. Saya baru saja diterima magang di salah satu PAUD dan saya sangat mencintai pekerjaan baru saya ini. Saya tertarik sekali dengan anak-anak. Saya senang bisa menjadi teman bermain dan belajar bagi mereka. Setiap seminggu sekali, saya diwajibkan untuk membuat satuan kegiatan mengajar dimana saya harus membuat suatu kegiatan yang bersifat edukatif dan seru untuk diajarkan kepada anak-anak. Nah, saya rasa ini hal yang sangat menarik yang bisa saya tulis disini. :) Saya juga berharap saya bisa bertukar informasi tentang anak-anak dengan para pembaca. 

Semoga bermanfaat :)

kata Danirmala

Saya...


Saya Danirmala, dan Danirmala adalah saya. Saya mencari tempat untuk menuangkan perasaan dan pikiran saya. Disini, di blog ini lah mungkin tempatnya. Selamat datang Danirmala. :)